Minggu, 30 Mei 2010

Kerusakan Terumbu Karang di Pesisir Utara Jawa Tengah


Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar daerah habitat laut di pantai Utara Jawa Tengah, terutama di lokasi yang diteliti adalah lebih buruk. Penutupan mangrove, dari total 3,442.19 ha hanya 979,8 (8,46%) dalam kondisi baik, sedangkan sisanya bidang 2,462,39 ha (71,54%) dalam kondisi kritis atau buruk. Tren serupa diamati di rumput laut dan habitat terumbu karang menunjukkan penurunan karang hidup menutupi mengakibatkan penurunan produksi perikanan tangkap (Suprihayono, 2009). Akibatnya, abrasi pantai terus mengalami peningkatan. Rusaknya ekosisitem mangrove juga berpengaruh terhadap fungsi fisiknya yaitu sebagai sediment trap. Sediment yang langsung menuju lautan berpengaruh pada kualitas perairan dimana, perairan pesisir utara Jawa umumnya cukup keruh (Reef Base, 2010).

Ekosistem terumbu karang adalah ekosistem yang paling besar merasakan dampak kerusakan daerah pesisir utara Jawa. Informasi dari instansi terkait di beberapa daerah pesisir utara jawa menyebutkan. Kabupaten Batang, kawasan terumbu karang Kretek. Berdasarkan hasil survei, persentase tutupan karang keras yang masih hidup hanya sebesar 6%. Karang yang dijumpai pada transek hanya satu jenis, yaitu Porites lobata, dengan bentuk pertumbuhan massive (batu bulat besar) dan submassive Suara Merdeka, 2008). Dari Rembang Badan Keswadayaan Masyarakat (BKM) ‘Tirto Mulyo’ memrediksi sekitar 180 hektar terumbu karang di perairan Rembang sudah rusak. “Sisanya hanya sekitar 30 hektar terumbu karang yang masih baik,”. Tiga terumbu karang di wilayah perairan Kendal kondisinya rusak parah. Yakni di Karang Kelop, Karang Rome-rome, dan Karang Tandes. Ketiga terumbu karang itu berada di lepas pantai sejauh 3 mil dari arah Desa Jungsemi, Kec Kangkung. Menurut Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Kab. Rembang drh. Khumaidi, ketiga terumbu karang itu luasnya sekitar 7 hektar.
Kondisi terumbu karang di P. Panjang Kabupaten Jepara, termasuk dalam kondisi rusak. Hasil ini menunjukkan penurunan dari penelitian yang dilakukan oleh Haryono (2001) dan Lutfi (2003). Penelitian yang dilakukan oleh Haryono pada tahun 2001 menunjukkan kondisi terumbu karang di P. Panjang dalam keadaan baik dengan persentase penutupan karang sebesar 49,46%, sedangkan penelitian yang dilakukan oleh Lutfi (2003) menunjukkan penurunan dengan penutupan karang hidup yang hanya sebesar 19,08 %. Hal ini mengindikasikan bahwa kondisi terumbu karang di Pulau Panjang mengalami penurunan dari tahun ke tahun.

Uraian diatas dapat memberikan gambaran bahwa terjadi tren penurunan terhadap kualitas lingkungan di daerah pesisir utara Jawa Tengah. Selain faktor alam, aktivitas manusia memiliki porsi besar terhadap kerusakan dewasa ini. Peningkatan jumlah penduduk di pesisir utara Jawa Tengah mendorong pemanfaatan lahan pesisir secara optimal. Contoh kecil adalah pembukaan hutan mangrove skala besar sebagai tambak dan kawasan industri. Perilaku kurang ramah ketika di laut juga turut merusak ekosisitem yang berada disana. Anggapan bahwa laut adalah tempat penampungan sampah harus segera kita ubah karena laut memiliki keterbatasan dalam menguraikan kandungan organik maupun non-organik dari daratan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar